NUNUKAN – Sebuah jembatan yang dibangun di Kampung Bajau, Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, membawa arti lebih dari sekadar pembangunan fisik bagi masyarakat setempat. Infrastruktur tersebut menjadi penghubung aktivitas warga sekaligus membuka akses yang lebih mudah bagi masyarakat di kawasan pesisir dan perbatasan. Desa Tanjung Karang sendiri berada di Pulau Sebatik, salah satu wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kehidupan masyarakatnya banyak ditopang oleh sektor pertanian, perikanan dan perdagangan, termasuk komunitas masyarakat Bajau yang bermukim di wilayah tersebut. (Jadesta)
Kehadiran jembatan ini sejalan dengan semangat pembangunan infrastruktur yang tengah didorong pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto, terutama untuk memperluas konektivitas hingga ke wilayah yang sulit dijangkau. Pemerintah melalui program pembangunan jembatan menargetkan ribuan jembatan dapat dibangun di berbagai daerah Indonesia. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pembangunan jembatan merupakan hasil kolaborasi pemerintah, TNI Angkatan Darat dan masyarakat. Hingga Juni 2026, pemerintah menyampaikan progres pembangunan mencapai sekitar 2.500 jembatan dengan target 5.000 jembatan rampung pada akhir 2026. (Setkab)
Bagi masyarakat Kampung Bajau, pembangunan jembatan memiliki nilai strategis karena menyentuh langsung kebutuhan sehari-hari. Jembatan menjadi jalur penghubung yang mempermudah warga dalam menjalankan aktivitas, membawa hasil usaha, mengakses fasilitas umum serta memperlancar mobilitas masyarakat. Dalam konteks wilayah perbatasan, keberadaan infrastruktur seperti ini juga memiliki makna yang lebih luas. Akses yang semakin baik berarti aktivitas masyarakat menjadi semakin terkoneksi dengan pusat pelayanan dan kegiatan ekonomi, sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan negara tidak berhenti di wilayah perkotaan, tetapi turut menjangkau masyarakat yang berada di kawasan terluar.
Pemerintah sebelumnya telah menunjukkan perhatian terhadap pembangunan jembatan sebagai bagian dari pemerataan infrastruktur. Pada 9 Maret 2026, Presiden Prabowo meresmikan 218 jembatan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Presiden berdialog langsung dengan masyarakat dan menerima laporan mengenai manfaat jembatan, termasuk bagi anak-anak sekolah di daerah terpencil. Pemerintah menempatkan pembangunan jembatan sebagai upaya memperkuat akses, memperlancar mobilitas dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. (Setkab)
Kini, jembatan di Kampung Bajau dapat dipandang sebagai bagian dari wajah baru pembangunan di perbatasan. Bagi masyarakat, jembatan bukan hanya rangkaian konstruksi yang menghubungkan satu sisi dengan sisi lainnya, tetapi juga menjadi simbol terbukanya akses menuju kesempatan yang lebih luas. Di tengah posisi Sebatik sebagai wilayah terdepan Indonesia, pembangunan infrastruktur dasar menjadi bagian penting dalam menghadirkan negara di tengah masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan pesan pemerintah bahwa pembangunan jembatan pada hakikatnya adalah upaya “menghubungkan harapan”—menghubungkan masyarakat dengan akses, aktivitas ekonomi, pelayanan dasar dan masa depan yang lebih baik.





